Rabu, 13 Juli 2011

Kontrasepsi IUD

IUD HORMON
A.   Pengertian
IUS (Intra Uterine System) merupakan kontrasespi hormonal berbentuk rangka plastik berbentuk T yang dikelilingi oleh silinder pelepas hormon yang mengandung Levonorgestrel 52 mg.
Menurut Biran, IUS adalah metode terbaru dalam bidang kontrasepsi yang menggabungkan manfaat dari kontrasepsi jenis IUD dan kontrasepsi hormonal dengan cara menambahkan hormon (Levonorgestrel) dalam IUD.

B.   Komposisi
Mengandung hormone: Progesterone atau Levonorgestrel. IUS generasi pertama ini mengandung 38 mg of progesteron, dengan dosis pelepasan 65 µg progesteron tiap hari.

C.   Macam-Macam Nama 98- 116
a.    Progestasert-T= Alza T
1)    panjang 36 mm, lebar 32 mm, dengan 2 lembar benagng ekor warna hitam
2)    mengandung 38 mg progesterone, dan barium sulfat, melepaskan 65 mcg progesterone perhari
3)    tabung inserternya berbentuk melengkung (meniru lekuk lengkung cavum uteri)
4)    daya kerja: 18 bulan
5)    teknik insersi: plunging (modified withdrawal)

b.    LNG-20
1)    mengandung 46-60 mg Levonorgestrel, dengan pelepasan 20 mcg perhari
2)    angka kegagalan kehamilan sangat rendah: <0,5 per 100 wanita pertahun
3)    penghentian pemakaian oleh karena persoalan perdarahan ternyata lebih tinggi disbanding IUD lainnya, karena 25% mengalami amenore atau perdarahan haid yang sangat sedikit

D.   Mekanisme Kerja
97 n 441
E.   Indikasi dan Kontraindikasi
Indikasi:
a.    Kontrasepsi
b.    Idhiopatic Menorrhagia (Perdarahan Uterus Disfungsional)
c.    Pencegahan Hiperplasia Endometrium (pertumbuhan sel-sel endometrium uterus berlebihan)

Kontraindikasi:
a.    Infeksi kelamin
b.    diduga atau mengalami keganasan rahim atau mulut rahim (serviks)
c.    perdarahan uterus tidak normal
d.    kelainan uterus
e.    penyakit hati kronis, atau tumor hati
f.     Proses tromboemboli (pembekuan darah)
g.    Kehamilan

F.    Cara Penggunaan
IUS ini dapat dipasang di dalam rahim wanita pada saat :
a.    Setelah pil KB terakhir atau selama perdarahan (menstruasi).
b.    Jika sudah menggunakan IUD copper, dikeluarkan dahulu baru diganti.
c.    Sekitar 4-6 minggu setelah melahirkan.
d.    Keguguran, segera setelah prosedur pemindahan dilakukan.
e.    Wanita usia akhir 30 tahun untuk melindungi endometrium (sel-sel uterus).

G.   Keuntungan dan Kerugian
Keuntungan: mengurangi volume darah haid (dapat sampai dibawah tingkat pra-insersi)
Kerugian:
a.    Jauh lebih mahal daripada Cu IUD
b.    Harus diganti setelah 18 bulan
c.    Lebih sering menimbulkan perdarahan mid-siklus dan perdarahan bercak/spotting
d.    Insidens kehamilan ektopik lebih tinggi 
H.   Efek Samping dan Penanganan
a.    edema/pembengkakan (periffer atau abdominal)
b.    kenaikan berat badan
c.    mood depresi, gugup, ayunan mood
d.    sakit kepala
e.    sakit perut, nyeri perut bawah, mual
f.     timbul jerawat
g.    sakit punggung
h.    infeksi kelamin
i.      hirsutisme (pertumbuhan rambut berlebihan)
j.      rambut rontok dan gatal

I.      Tempat Pelayanan
a.    Rumah Sakit
b.    Rumah Bersalin/bidan
c.    Puskesmas
d.    Klinik KB
e.    TKBK (Tim Keluarga Berencana Keliling)

IUD NON HORMONAL
1.    Pengertian
IUD atau AKDR ( Alat Kontrasepsi Dalam Rahim ) adalah alat kontrasepsi yang ditempatkan di dalam rahim, yang terbuat dari plastik khusus yang diberi benang pada ujungnya,dan terdiri dari beberapa bentuk.
Suatu alat kontrasepsi yang dimasukkan kedalam rahim terbuat dari plastik halus (Polyethelen) untuk mencegah terjadinya konsepsi atau kehamilan (BKKBN, 2003).
Suatu alat yang terbuat dari palstik atau tembaga yang dimasukkan kedalam rahim oleh seorang dokter untuk jangka waktu yang lama (WHO, 2004).
                                  
2.    Komposisi
Jenis-jenis IUD di Indonesia:
a.    Copper-T
IUD berbentuk T, terbuat dari bahan polyethelene di mana pada bagian vertikalnya diberi lilitan kawat tembaga halus. Lilitan kawat tembaga halus ini mempunyai efek antifertilisasi (anti pembuahan) yang cukup baik.

b.    Copper-7
IUD ini berbentuk angka 7 dengan maksud untuk memudahkan pemasangan. Jenis ini mempunyai ukuran diameter batang vertikal 32 mm dan ditambahkan gulungan kawat tembaga (Cu) yang mempunyai luas permukaan 200 mm2, fungsinya sama seperti halnya lilitan tembaga halus pada jenis Copper-T.

c.    Multi Load
IUD ini terbuat dari dari plastik (polyethelene) dengan dua tangan kiri dan kanan berbentuk sayap yang fleksibel. Panjangnya dari ujung atas ke bawah 3,6 cm. Batangnya diberi gulungan kawat tembaga dengan luas permukaan 250 mm2 atau 375 mm2 untuk menambah efektivitas. Ada 3 ukuran multi load, yaitu standar, small (kecil), dan mini.

d.    Lippes Loop
IUD ini terbuat dari bahan polyethelene, bentuknya seperti spiral atau huruf S bersambung. Untuk memudahkan kontrol, dipasang benang pada ekornya. Lippes Loop terdiri dari 4 jenis yang berbeda menurut ukuran panjang bagian atasnya. Tipe A berukuran 25 mm (benang biru), tipe B 27,5 mm 9 (benang hitam), tipe C berukuran 30 mm (benang kuning), dan 30 mm (tebal, benang putih) untuk tipe D. Lippes Loop mempunyai angka kegagalan yang rendah. Keuntungan lain dari pemakaian spiral jenis ini ialah bila terjadi perforasi jarang menyebabkan luka atau penyumbatan usus, sebab terbuat dari bahan plastik. Yang banyak dipergunakan dalam program KB masional adalah IUD jenis ini.

3.    Macam-macam Nama
a.    CU – 7
b.    Multilad
c.    CU – T
d.    Stone Ring (cincin)
e.    Lippes Loop.
f.     Dana Device
g.    Heart Device
h.    Omega Device
i.      Ancor Device
j.      Dalcon Device
k.    Butterfly Device
l.      Saf-T Coil
m.   Ahmed Device

4.    Mekanisme Kerja
a.    Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopi.
b.    Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri.
c.    AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu, walaupun AKDR membuat sperma sulit masuk ke dalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi sperma untuk fertilisasi.

5.    Indikasi dan Kontraindikasi
Indikasi:
a.    Usia reproduktif
b.    Keadaan nulipara
c.    Menginginkan menggunakan kontrasepsi jangka panjang
d.    Perempuan menyusui yang menginginkan menggunakan kontrasepsi
e.    Setelah melahirkan dan tidak menyusui
f.     Setelah mengalami abortus dan tidak terlihat adanya infeksi
g.    Risiko rendah dari IMS
h.    Tidak menghendaki metoda hormonal
i.      Tidak menyukai mengingat-ingat minum pil setiap hari
j.      Tidak menghendaki kehamilan setelah 1 - 5 hari senggama
k.    Perokok
l.      Gemuk ataupun kurus

Kontraindikasi: Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau yang sering berganti pasangan
a.    Sedang hamil
b.    Belum pernah melahirkan
c.    Perdarahan vagina yang tidak diketahui
d.    Sedang menderita infeksi alat genital (vaginitis, servisitis)
e.    Tiga bulan terakhir sedang mengalami atau sering menderita PRP atau abortus septik
f.     Kelainan bawaan uterus yang abnormal atau tumor jinak rahim yangdapat mempengaruhi kavum uteri
g.    Penyakit trofoblas yang ganas
h.    Diketahui menderita TBC pelvik
i.      Ukuran rongga rahim kurang dari 5 cm
j.      Adanya tumor ganas pada traktus genitalis
k.    Adanya metroragia yang belum disembuhkan

6.    Cara Penggunaan
Ada enam langkah yang harus ditempuh pada setiap pemasangan IUD:
a.    Menyiapkan alat-alat dan perlengkapan
b.    Memberikan penerangan dan pendidikan kepada para akseptor baru
c.    Mencatat riwayat dengan melengkapi daftar penelitian
d.    Pemeriksaan pinggul dan pemeriksaan rahim dengan sonde
e.    Pemasangan IUD
f.     Memberikan petunjuk dan meyakinkan klien
Prinsip pemasangan adalah menempatkan IUD setinggi mungkin dalam rongga rahim (cavum uteri). Saat pemasangan yang paling baik ialah pada waktu mulut peranakan masih terbuka dan rahim dalam keadaan lunak. Misalnya, 40 hari setelah bersalin dan pada akhir haid.
a.            Tahap pra tindakan/sebelum tindakan
1)        Wawancara medis
2)        Memeriksa adanya indikasi dan kontraindikasi bagi pemasang AKDR
3)        Peserta AKDR mengingat pemakaian kontrasepsi yang lama (2-5 tahun)
4)        Menentukan apakah peserta dapat memekai AKDR
5)        Mempersiapkan alat dan pensucihamaan peralatan

b.           Tahap tindakan (pemasangan AKDR)
Pemasangan AKDR
1)     Peralatan:
§   1 set alat AKDR
§   Cairan antiseptic(yodium 1%,obat merah, betadine 1%, dettol:air= 1:20)
§   Kapas
§   Speculum cocor bebek/speculum “SIM S”
§   Gunting
§   Sonde uterus
§   Tenaculum satu gigi
§   Tang tampon/pinset panjang
§   Sepasang sarung tangan steril
§   Busi /dilatators hegar
§   Peralatan seperti mangkuk suci hama dan tempat instrument yang suci hama
§   Kateter

2)     Cara pemasangan
i.          Penderita BAK terlebih dahulu, tapi apabila belum bisa BAK dilakukan kateterisasi untuk pengosongan kantong kemih
ii.          Akseptor berbaring dalam posisi litotomi
iii.          Lakukan pemeriksaan ginekologi, dengan mengukur besar rahim, bentuk rahim, posisi rahim, melihat keputihan, atau erosi yang mencurigakan
iv.          Masukkan speculum, bersihkan dinding vagina dan mulut rahim dengan kapas yang dibasahi antisepik.
v.          Perhatikan dinding rahim ada kelainan atau tidak
vi.          Ulas portio dengan larutan antiseptic, kait bibir depan portio dengan dengan tenakulum tepat pada sebelah atas portio.
vii.          Masukkan sonde sesuai arah rahim untuk menentukan dalamnya rahim. Ukuran dinyatakan dalam sentimeter.
viii.          Siapkan AKDR steri
ix.          Masukkan AKDR sesuai arah dan dalamnya sonde.
x.          Lepaskan AKDR dari tabungnya. Ada 2 cara untuk melepaskan AKDR dari tabungnya: mendorong tabung pendorong (bagi tipe Lippes Loop) dan dengan menahan tabung penahan dan menarik tabung kearah pemasang AKDR (bagi AKDR generasi II dan III)
xi.          Potong benang bila terlalu panjang secara tegak lurus terhadap sumbu benang

Description: C:\Users\Shescha\Pictures\iud1.jpg

     c.   Pasca tindakan 
1)     Sering terjadi rasa mulas dan bercak perdarahan setelah pemasangan atau pencabutan
2)     Diberiakan analgetik,parasetamol, atau spasmolitik
3)     Akseptor harus control kembali setelah pemasangan


4)     Instruksi kepada peserta:
a)     Beri kartu tanda peserta IU, tanggal, jenis IUD
b)     Minta kembali untuk pemeriksaan setelah haid pertama (4-6 minggu)
c)     Jelaskan tentang kemungkinan resiko infeksi dan efek samping
d)     Segera datang untuk pemeriksaan bila: timbul rasa nyeri perut, perdarahan, tidak dapat  haid
e)     Hubungan seks dapat dilakukan
5)     Pemeriksaan lanjutan
Hal yang diperhatikan :
a)     Memperhatikan dan menjawab pertanyaan peserta
b)     Bila puas dengan cara IUD dan tidak ada kontraindikasi untuk melanjutkan pemakaian:
§   Jadwalkan untuk kembali 12 bulan
§   Ingatkan setiap kunjungan tahunan saat mengganti IUD
§   Ingatkan untuk kembali periksa jika ada tanda-tanda tertentu
6)     Dianjurkan bagi wanita diatas 30 tahun untuk memeriksakan usapan lender (papanicolau smear)

7.    Keuntungan dan Kerugian
Keuntungan:
a.    Sangat efektif. 0,6 - 0,8 kehamilan/100 perempuan dalam 1 tahun pertama (1 kegagalan dalam 125 - 170 kehamilan)
b.    AKDR dapat efektif segera setelah pemasangan
c.    Metode jangka panjang (10 tahun proteksi dari CuT-380A dan tidak perlu diganti)
d.    Tidak mempengaruhi hubungan seksual
e.    Tidak ada efek samping hormonal dengan CuT-380A
f.     Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI
g.    Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau abortus (apabila tidak terjadi infeksi)
h.    Dapat digunakan sampai manopouse
i.      Tidak ada interaksi dengan obat-obat
j.      Membantu mencegah kehamilan ekktopik

Kerugian:
Setelah pemasangan, beberapa ibu mungkin mengeluh merasa nyeri dibagian perut dan pendarahan sedikit-sedikit (spoting). Ini bisa berjalan selama 3 bulan setelah pemasangan. Tapi tidak perlu dirisaukan benar, karena biasanya setelah itu keluhan akan hilang dengan sendrinya. Tetapi apabila setelah 3 bulan keluhan masih berlanjut, dianjurkan untuk memeriksanya ke dokter. Pada saat pemasangan, sebaiknya ibu tidak terlalu tegang, karena ini juga bisa menimbulkan rasa nyeri dibagian perut. Dan harus segera ke klinik jika:
a.    Mengalami keterlambatan haid yang disertai tanda-tanda kehamilan: mual, pusing, muntah-muntah.
b.    Terjadi pendarahan yang lebih banyak (lebih hebat) dari haid biasa.
c.    Terdapat tanda-tanda infeksi, semisal keputihan, suhu badan meningkat, mengigil, dan lain sebagainya. Pendeknya jika ibu merasa tidak sehat.
d.    Sakit, misalnya diperut, pada saat melakukan senggama. Segeralah pergi kedokter jika anda menemukan gejala-gejala diatas.


8.    Efek Samping dan Penanganan
Efek samping umum terjadi:
perubahan siklus haid, haid lebih lama dan banyak, perdarahan antar mensturasi, saat haid lebih sakit

Efek samping lain dapat terjadi antara lain:
a.    Perdarahan: umumnya setelah pemasangan AKDR.
Cara penanganannya:
1)    Berikan penjelasan sebab terjadinya dan keluhan
2)    Jelaskan pula bahwa perdarahan ringan biasanya terjadi pada awal pemasangan. Selama haid, perdarahan haid akan lebih banyak dari biasanya. Kesemuanya ini tidak berbahanya
3)    Kalau tidur perdarahan banyak tidur dengan kepala lebih rendah dari kaki
4)    Kompres air dingin diatas perut
5)    Pemberian anti prostaglandin, misal: Acetosal 500mg : 3x1 tablet selama 3-5 hari
6)    Pemberian preparat besi, misal Preparat Fe 1x1 tablet per hari
7)    Bila perdarahan karena keguguran, rujuk ke RS

b.    Rasa nyeri
·         Rasa nyeri dan kejang di perut: terjadi segera setelah pemasangan.
·         Nyeri haid: sewaktu haid dimulai, terjadi rasa nyeri yang berlebihan dan tak tertahankan
·         Nyeri pada saat sanggama

Cara penanganannya:
1)    Menjelaskan bahwa rasa nyeri itu mungkin terjadi, dan ini biasanya diakibatkan oleh kontraksi ini bersifat sementara dan mudah diatasi. Perlu ditelusuri apakah nyeri terjadi sebelum atau sesudah pemasangan
2)    Pada nyeri sanggama, kalau psikis saja bisa diberi penerangan jangan dirisaukan, anggap saja bukan keluhan
3)    Pemeriksaan dalam: apakah terdapat tanda-tanda radang di rahim, bila ada radang segera lepas AKDR. Apakah benang terlalu panjang, maka tindakannya adalah memotong benang.
4)    Bila ada tanda radang, beri anti prostaglandin. Bila ada infeksi beri antibiotik
c.    Keputihan
·         Teraba/terasa adanya cairan putih yang berlebihan. Terjadi akibat produksi cairan rahim yang berlebihan
·         Tidak berbahaya apabila cairan tersebut berbau, tidak terasa gatal dan tidak terasa panas
Cara penanganannya:
1)    Berikan penjelasan sebab terjadinya. Bila keputihan sedikit, tak perlu dirisaukan, karena ini adalah gejala biasa dan akan berkurang setelah 3 bulan
2)    Kalau keputihannya berbau keruh atau kekuningan segera di bawa ke Puskesmas, karena kemungkinan ada infeksi dalam rahim
3)    Apabila cairan berlebihan dapat diberikan preparat anti kholinergik seperti ekstrakt Beladona 10mg, 2x1 tablet

d.    Gangguan pada suami: kadang-kadang suami dapat merasakan sewaktu bersenggama

e.    Ekspulsi (pengeluaran sendiri): dapat terjadi untuk sebagian atau seluruhnya.
Cara penanganannya:
1)    Menjelaskan kepada pasien bahwa ekspulsi mungkin saja terjadi pada pemakaian AKDR
2)    Bawa ke puskesmas untuk diperiksa, dilepas AKDR dan diganti dengan ukuran sesuai

9.    Tempat Pelayanan
a.    Rumah Sakit
b.    Rumah Bersalin/bidan
c.    Puskesmas
d.    Klinik KB
e.    TKBK (Tim Keluarga Berencana Keliling)

Daftar Pustaka
Hartono, Hanafi. 1996. KB dan Kontrasepsi. Pustaka Sinar Harapan : Jakarta.
Prawiroharjo, Sarwono. 1989. Ilmu Kandungan. Yayasan  Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo : Jakarta.
Setyowati, B. 1994. Panduan Konseling KB Dokter Praktek Swasta. Yayasan Penerbit IDI : Jakarta.
____________.1993. Informasi Pelayanan Kontrasepsi. Badan Koordinasi KB Nasional : Jakarta.
____________. Aspek-Aspek Kesehatan Keluarga Berencana. Pusdiklat Departemen Kesehatan Republik Indonesia: Jakarta
____________. 1991. Buku Materi dan Pelayanan Metode Kontrasepsi Efektif Pilih Untuk Tenaga Medis dan Paramedis. Biro Pelayanan Kontrasepsi BKKBN Pusat: Jakarta


Tidak ada komentar:

Posting Komentar